SELASA , 16 JULI 2019

Tangani Kasus Perkosaan Anak Oleh Ayah Kandung, Direktur Reskrimum: “Saatnya Polda Punya Ruangan Pelayanan Khusus Untuk Kelompok Rentan”

By: Redaktur Tribrata Papua Barat
Minggu , 14 Juli 2019 18:26

Tribratanewspapuabarat.com-Sungguh malang nasib, LB, anak gadis yang baru duduk di bangku SMP sudah menjadi korban kebiadaban TW, ayah kandungnya sendiri. Pelaku melampiaskan nafsu bejatnya pada sang anak lebih dari sekali. Korban tidak berdaya karena kerap diancam dibunuh jika melaporkan aib itu ke ibu kandungnya.

Namun serapi-rapinya suatu kejahatan tetap saja terkuak pada akhirnya.

Saat ini TW sudah diamankan di Direktorat Reskrimum Polda Papua Barat. Sang ibu melaporkan peristiwa yang dialami anak kandungnya ke penyidik subdit Renakta. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, TW langsung dimasukan dalam penjara rutan Polda Pabar, Sabtu 13 Juli 2019.

Direktur Reskrimum Polda Pabar, Kombes Pol. Robert Da Costa S.Ik, MH  menjelaskan bahwa peristiwa pemerkosaan oleh keluarga atau kerabat dekat pada anak juga dijumpai di beberapa daerah lain di papua barat. “Ini merupakan fenomena sosial yang dialami para kelompok rentan seperti perempuan dan anak. Mereka pada posisi subordinat dan pelaku sebagai superior. “Oleh orang terdekat, korban kerap dieksploitasi secara seksual disertai intimidasi dan penggunaan kekerasan”, terang Robert.

“Ada isu  penting terkait fenomena pemerkosaan ini yaitu isu dampak pada korban paska kejadian dan penanganannya. Ini jarang diperhatikan. Kita kerap hanya fokus pada keinginan memasukan   pelaku ke penjara.  Benar isu penghukuman dan penjeraan memang penting. Namun perlindungan dan empati pada korban, tidak bisa kita abaikan. “Bagaimana cara kita berikan proteksi pada perempuan dan anak yg menjadi korban kejahatan seksual ? Ini  perlu upaya lebih dari yang sudah ada sekarang”, tegas Direktur asal kupang tersebut.

“Vulnerable people yang terviktimisasi butuh ruang khusus saat hadir di kepolisian. Dan jawabannya adalah Ruang Pelayanan Khusus (RPK). Sedihnya,  kita belum punya. Kita berharap ada dukungan dari Pemerintah Propinsi agar di Polda bisa dibangun ruang RPK, “ujar Robert.

“Tentu kita tidak berharap korban akan mengalami sekundari viktimisasi lagi di kantor kepolisian. Mereka sudah cukup menderita baik fisik maupun psikis. Mereka butuh ruang pelayanan khusus. Direktorat kami sudah ada SDM nya,  hanya ruangan amat tidak memadai. Kita butuh dukungan hebat dari pemerintah propinsi dan komunitas pemerhati perempuan dan anak, jelas Dirreskrimum.

Atas kejahatan yang dilakukannya, TW dijerat dengan pasal 81 ayat (1) UU No 35 tahun 2014 tentang perubahan UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman penjara paling singkat adalah 5 tahun dan paling lama adalah 15 tahun.

“Pidana penjaranya akan ditambah 1/3 karena  pelakunya adalah ayah kandung dari korban”, terang Robert mengakhiri wawancara.

Saat ini TW sudah meringkuk di sel dingin dan menghuni  hotel prodeo di Mapolda Papua Barat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Komentar

Create Account



Log In Your Account