SELASA , 17 SEPTEMBER 2019

Kapolsek Waigeo Selatan mengikuti Press Release Pelepasliaran Penyu Hijau di Pantai Saleo, Waisai, Raja Ampat

By: Redaktur Tribrata Papua Barat
Jumat , 13 September 2019 09:20

Tribratanewspapuabarat.com-Kapolsek Waigeo Selatan Polres Raja Ampat IPDA Adhi Haris, S.Tr.K bersama BKKPN Satker Raja Ampat dan PSDKP Wilker Raja Ampat Kementerian Kelautan dan Perikanan melepasliarkan seekor penyu hijau di Pantai Saleo, Waisai, Raja Ampat. Pada hari Rabu, 11 September 2019.

IMG-20190913-WA0080

Chelonia mydas atau lebih dikenal dengan sebutan penyu hijau (atau masyarakat lokal sering menyebut dg Penyu Ikan) yang hidup di laut adalah salah satu satwa yang dilindungi.

Sebelum dilepasliarkan, Penyu tersebut diamankan ke Hatchery milik Dinas Perikanan Kabupaten Raja Ampat dan dilakukan pengukuran morfometrik oleh Personil BKKPN Satker Raja Ampat.
Kapolsek Waigeo Selatan Ipda. Adhi Haris mengatakan sebelumnya bahwa satwa laut yang dilindungi tersebut diamankan dari seorang masyarakat di Pasar Waisai pada tanggal 6 September 2019. Warga berinisial (PD) yang merupakan warga Kampung Waisilip selanjutnya dibawa ke Pos Polsek Waigeo Selatan untuk dimintai keterangan.

Dari yang bersangkutan diperoleh keterangan bahwa baru pertama kali membawa Penyu ke Waisai dan tidak mengetahui bawa Penyu merupakan satwa yang dilindungi. PD kemudian diberi pembinaan dan disosialisasikan bahwa penyu merupakan satwa dilindungi, kemudian diijinkan pulang dan membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatan tersebut.

Berdasarkan informasi, di Raja Ampat, Penyu masih ditangkap untuk dikonsumsi karena dianggap merupakan budaya masyarakat setempat sehingga perlu sosialisasi yang terus menerus agar populasi Penyu terus terjaga. Koordinator BKKPN Satker Raja Ampat Muhammad Ramli Firman mengatakan bahwa semua jenis Penyu laut di Indonesia dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomer 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Ini berarti segala bentuk perdagangan Penyu baik dalam keadaan hidup, mati maupun bagian tubuhnya itu dilarang.

IMG-20190913-WA0083

Menurut Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pelaku perdagangan (penjual dan pembeli) satwa dilindungi seperti penyu itu bisa dikenakan hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. Berdasarkan ketentuan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), semua jenis Penyu telah dimasukan dalam Appendix I yang artinya perdagangan internasional Penyu untuk tujuan komersil juga dilarang.

Kapolsek Waigeo Selatan menyampaikan perhatian khusus terhadap satwa laut dilindungi. Kedepannya, bersama-sama Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui BKKPN Satker Raja Ampat dan PSDKP Wilker Raja Ampat akan terus mensosialisasikan perlindungan satwa di wilayah Raja Ampat mengingat Provinsi Papua Barat merupakan provinsi konservasi dan khususnya Raja Ampat merupakan salah satu destinasi wisata bahari terbaik di dunia.

*Humas Polres Raja Ampat*


Komentar

Create Account



Log In Your Account